Saga Of Tanya The Evil Volume 1 Chapter 1 Part 2.1 (Re-Translated)

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Di Atas Langit Norden (Part 2.1)

Pada hari yang Sama, Pihak Aliansi Entente, di Langit Nordland

Peta

Ya Tuhan, mengapa? Mengapa ini semua terjadi? Ratap seorang Letnan Kolonel Anson Sue yang dengan wajah pucatnya menengadah ke langit. Bombardir meriam artileri kelas berat Kerajaan Imperial bergemuruh di segala penjuru langit Nordland yang telah lama ia jelajahi sebagai seorang penyihir angkatan udara Aliansi Entente. Pertempuran yang terjadi di bawah sana sungguh tidak imbang. Bukan, seorang tentara yang waras bahkan akan menyebutnya sebagai sebuah pembantaian, bukan pertempuran. Pasukan Entente bahkan tidak mengerahkan kendaraan tempur sama sekali – hanya pasukan infanteri yang berbaris maju dengan rapi menuju perbukitan luas yang tanpa sadar telah siap disambut oleh meriam-meriam artileri.

“Ini tidak seperti yang diberitahukan! Pasukan sialan itu menembaki kita!”

“Tolong! Pasukan medis! Cepat! Segera ke sini!”

“Mundur! Cepat mundur! Lempar bom asap!”

“Tanganku! Tanganku patah!”

“Pasukan udara belum juga datang… !”

“Komandan! Komandan, apa yang terjadi! Bagaimana situasi lapangan?!”

Daerah yang disebut “perbatasan” oleh Kerajaan, atau “zona pengawasan demiliter” oleh Aliansi Entente, adalah sejenis daerah perbatasan semu yang ditetapkan oleh Perjanjian Londinium. Jika pasukan Aliansi Entente langsung menyerbu perbatasan dan menyerang pos-pos militer Kerajaan secara langsung, mereka harusnya sudah tahu bahwa hal ini akan terjadi. Entah apa yang dipikirkan oleh para politikus Aliansi, laporan radio membuktikan bahwa nyawa para tentara Aliansi adalah harga mahal yang harus dibayar untuk keputusan politik mereka yang salah – ya, dengan nyawa para tentara sendiri.

“… Terkutuklah kalian para birokrat ke neraka!!!”

Perekonomian lumpuh, kesenjangan antara kaya dan miskin meningkat, dan tingkat pengangguran meningkat. Problem dalam negeri yang dihadapi Aliansi Entente terus menggerogoti mereka dan mengancam keberlangsungan negara mereka. Pemerintah aliansi kini membayar dengan harga yang sangat mahal akibat memaksakan nasionalisme dan fasisme sebagai solusi masalah mereka. Tapi belum, bencana sebenarnya belum tiba.

Peperangan yang terjadi ini, adalah peperangan yang tak mungkin dimenangkan oleh Aliansi Entente.

Letnan Kolonel Sue terus mengumpat para birokrat sambil terus mengudara. Ia mengutuk mereka karena terus membarakan semangat nasionalisme sempit tanpa mau menerima kenyataan.

Perjanjian Londinium adalah sebuah perjanjian mengenai pertikaian perbatasan antara Kerajaan dan Aliansi Entente dengan syarat-syarat yang begitu ketat, dengan negara-negara Persemakmuran sebagai penengah. Zona pengawasan demiliter yang membagi wilayah yang bertikai sebenarnya adalah batas nasional, dengan hak administratif atas wilayah tersebut sebagai jaminan yang menjaga perjanjian tersebut. Semua syarat yang ada memberi pernyataan tegas terhadap dua pihak yang berseteru tanpa menghiraukan klaim kepemilikan pihak Aliansi Entente.

“Apa yang kalian maksud ‘mendaki dalam tekanan’?!”

Singkatnya, meskipun Aliansi Entente dapat seenaknya menganggap perbuatannya benar dalam lingkup domestik, namun dari perjanjian yang ada, komunitas internasional secara umum mendukung pihak Kerajaan. Tak peduli betapa keras para pemimpi menyuarakan pendapat mereka bahwa wilayah pertikaian yang ada sebenarnya adalah milik Aliansi Entente, namun dari perjanjian yang ada, negara-negara lain hanya menganggapnya sebagai sikap tak mau menerima kenyataan. Tentu saja tidak ada yang menanggapi para pemimpi itu dengan serius.

“Mendaki?! Apa ini yang mereka sebut dengan mendaki?!”

Aliansi Entente mengirim pasukan militernya berbaris berkeliling untuk berpatroli di wilayah perbatasannya? Upaya arbitrase? Tidak masuk akal. Kelihatannya para politikus kini sedang berusaha melakukan usaha cuci tangan dan pencitraan. Sue berharap seseorang akan berkata bahwa ini semua adalah sebuah sandiwara yang buruk.

Seorang juru bicara pemerintah, atau lebih tepatnya penjahat bayaran yang hanya mampu melontarkan sampah-sampah propaganda, dengan entengnya mengatakan invasi ini sebagai “latihan mendaki menghadapi tekanan yang terorganisir” dalam suatu jumpa pers. Sungguh omong kosong.

“Cunningham! Bagaimana status pasukan kita yang tersisa?!”

“Maaf, pak. Sinyal yang didapat tidak stabil dan semakin buruk. Saya tidak mendapat informasi apa pun…”

Para pasukan benar-benar panik. Itu sudah pasti. Tidak ada seorang pun yang akan tetap tenang setelah dibodohi untuk melanggar wilayah perbatasan dengan bujuk rayu bahwa peperangan tak akan terjadi – hingga akhirnya menjadi santapan empuk pasukan artileri Kerajaan yang telah siap siaga. Tak diragukan lagi kebodohan macam ini akan selamanya tercatat dalam sejarah.

“Bagaimana dengan komando pusat? Menara kontrol angkatan udara dan pusat komando tempur masih dalam keadaan baik. Bisakah anda hubungi yang lain?”

“Semua pasukan tercerai berai… dan saya tidak mampu menghubungi mereka. Lagipula, kita bahkan tidak dalam frekuensi radio yang seharusnya.”

Letnan Satu Cunningham, yang dihormati sebagai seorang veteran bahkan oleh orang sekaliber Sue, marah-marah sambil mengutak-atik telepon radio yang ada di pundaknya. Penataan sinyal yang ada sungguh buruk sampai-sampai membuat seorang veteran kewalahan – bukti lain keteledoran Aliansi Entente dalam operasi ini. Kalau saja ini bukan negara Sue sendiri, sudah pasti ia begitu terheran-heran.

“Mereka tidak akan pernah melanggar perbatasan tanpa sebelumnya mempersiapkan ancang-ancang untuk berperang lebih dulu. Jelas bahwa Aliansi Entente hanya sedang melakukan upaya diplomasi yang sangat beresiko. Setidaknya, Kerajaan tidak akan mengambil langkah yang berbahaya jika kami tidak siap untuk menanggung risiko akibat peperangan.” Kutipan dari juru bicara staff Jenderal Panglima Tentara Kerajaan yang Sue baca 2 hari yang lalu di sebuah surat kabar. Kata-kata itu mengungkap segalanya.

Harusnya, upaya Aliansi Entente itu cukup hanya dengan meningkatkan aktivitas militer untuk melihat bagaimana reaksi Kerajaan. Sang juru bicara sudah menawarkan sebuah opsi yang masuk akal, wajahnya menunjukkan amarah seolah-olah baru saja menelan sesuatu yang sangat pahit. Siapa kira Aliansi Entente akan menjalankan aksi militer yang membahayakan nasib negara sendiri tanpa persiapan matang terlebih dahulu?

“Aku tak peduli kalau anda menggunakan komunikasi jarak pendek sekarang ini. Saat ini, sudah cukup kalau anda bisa berhubungan langsung dengan pasukan darat. Kami akan segera membantu sisa pasukan yang ada untuk mundur.”

“Roger.”

Entah baik entah buruk, batalion di mana Sue berada ditempatkan di barisan belakang ketika insiden pelanggaran batas wilayah itu terjadi. Mereka berusaha menyusun kembali pasukan mereka setelah mengalami pukulan telak dari ledakan-ledakan meriam artileri. Bagi sebuah unit sebesar kompi atau yang lebih besar lagi, masih mungkin untuk kembali ke ibu kota untuk menggalang kekuatan kembali. Sue sudah salah membaca situasi karena ia lebih sering diterjunkan dalam misi rahasia… Jika ia dan anak buahnya dapat mundur, maka pastinya negaranya tidak punya niatan untuk berperang; itu artinya pemerintah sedang menjalankan propaganda seperti biasa.

Sue dan anak buahnya – yang merupakan pasukan terbaik, bahkan di antara para pasukan andalan Aliansi Entente – tidak pernah kehabisan kata-kata umpatan untuk menggambarkan betapa idiotnya para politikus dan petinggi-petinggi militer. Mereka tahu betul bahwa pemerintahan mereka diisi oleh orang-orang yang tidak becus. Mereka hanya tidak pernah menyangka bahwa jajaran penguasa akan mengambil suatu langkah yang begitu bodohnya sampai-sampai tak ada lagi harapan untuk diperbaiki.

“Darton, mohon maaf, tapi bisakah anda menghubungi regu yang lain? Saya ingin mendapat gambaran yang lebih jelas kondisi kita sekarang.”

Karena mereka berangkat belakangan, mereka sudah terlalu terlambat untuk bereaksi dan sekarang menghadapi misi yang mustahil untuk membantu para pasukan mundur dengan aman dari gempuran serangan musuh yang jauh lebih kuat dengan kondisi nyaris buta karena begitu paniknya keadaan. Yang membuatnya lebih buruk, tidak hanya mereka kesulitan untuk mencapai titik aman, namun juga karena begitu paniknya situasi sampai-sampai mereka bahkan tidak mendapat bantuan dari Pusat Komando Tempur, yang sebenarnya bertugas mengkoordinasi pasukan-pasukan penyihir, angkatan udara, dan angkatan darat.

“Jika dibutuhkan, kita akan berkumpul kembali dengan pasukan bantuan. Para peleton, jika kalian terpencar dan tak dapat berkumpul kembali, kalian diperbolehkan untuk bergabung dalam regu manapun yang dapat kalian temukan.”

“Dimengerti, Komandan!”

Sue menjawab panggilan radionya. Dari panggilan yang singkat tadi, ia paham bahwa situasi di lapangan sungguh-sungguh mengerikan. Aliansi Entente membayar dengan mahal kesalahan mereka menyerbu hingga meyebabkan peperangan namun dengan rantai komando yang sama yang digunakan saat situasi damai hingga kehilangan semua kontrol pasukan. Sungguh mudah untuk melihatnya.

“Dimengerti. Bagaimanapun, kita tidak dapat bertempur tanpa adanya pemimpin. Kita perlu melakukan sesuatu terhadap bombardir yang menyebabkan segala kekacauan ini. Apa kalian setuju?”

Situasi yang ada sungguh mengerikan sampai-sampai alih-alih menyatukan semua pasukan yang bertahan, semua unit membuat keputusan mereka masing-masing. Bahkan di antara sesama tentara yang sama-sama mampu berkomunikasi, meski sedikit, rasanya mustahil menemukan satu unit pun yang mengerti situasi secara keseluruhan serta memiliki skill kepemimpinan yang cukup untuk mengambil langkah yang dibutuhkan.

“Saya setuju. Posisi meriam artileri sudah pasti dibentengi… Tapi bagaimana dengan para observer?”

Sue harus menyetujui bahwa support paling realistis dan praktis yang dapat diberikan, dengan pasukan yang ia miliki, adalah dengan menghabisi para observer dari pasukan meriam artileri musuh.

“Komandan Sue! Ini dari pasukan angkatan darat Divisi 6. Kami masih bisa melacak sinyalnya!”

“Bagus! Mari kita lihat apakah mereka mampu menemukan observer artileri musuh.”

Sungguh suatu keberuntungan bisa memulihkan komunikasi dengan divisi satu ini yang mampu menangkap suatu kesempatan yang bagus sambil terus mempertahankan kesatuan regu dalam usaha untuk mundur.

“… Bingo! Mereka mengirim sinyal!”

Beberapa penyihir observer terbang solo, bahkan tak peduli kalau mereka ketahuan. Berdasarkan frekuensi sinyal yang dikirim dalam suatu interval tertentu, pastinya itu sinyal khusus untuk pesan intel observer artileri.

“Sendirian seperti biasanya, huh? Mereka terlalu mengentengkan kita.”

“Mungkin, tapi bukannya ia berada di belakang garis patroli?”

Sue sadar akan hal itu. Ia rasanya ingin berteriak kencang, melihat betapa mudahnya angkatan udara dan pasukan penyihir Kerajaan mengamankan pertempuran dengan penguasaan udara dan penyadapan jaringan yang tersusun rapi. Sudah jelas, militer Kerajaan pasti sudah mempersiapkan pertahanan udara yang cukup untuk memastikan observer mereka aman untuk terbang secara solo.

“Sumpah, pemimpin kita pasti sudah gila mengajak perang dengan negara superpower. Aku harusnya sudah mengajak keluargaku kabur dulu-dulunya.”

“Komandan Sue, aku bertaruh prajurit-prajurit kerajaan itu sekarang sedang garuk-garuk kepala, melihat betapa mudahnya mereka memenangkan peperangan.”

“Kesimpulan yang bagus. Semoga mereka memang sedang lengah.”

Melihat betapa buruknya semua ini terjadi, Komandan Sue hanya bisa berpasrah kepada Tuhan.

… Ya Tuhan, di manakah dosa dan kesalahan kami?

===***===

meionovel.com

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded