God Of Cooking Chapter 14 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Dewa Memasak – Bagian 14: Babak Penyisihan Grand Chef, dan… (5)

Aroma unik yang hanya dimiliki oleh daging belut  yang dipanggang dengan baik menggelitik hidungnya. Orang-orang yang memperhatikan hidangan Kaya tanpa sadar menelan ludah. Tidak ada satu orang pun yang melihat hidangannya dengan tatapan dingin. Itu tak terhindarkan. Jika kau punya hidung dan mulut, itu tak terhindarkan ingin menelannya. Semenggugah itu hidangannya.

Kaya mengiris daging belut dan meletakkannya di atas salad mimosa. Jo Minjoon dapat  membayangkan rasanya samar-samar. Kulit lemon yang digunakan sebagai pengganti gula, terkaramelisasi di atas api dan dapat lebih mengeluarkan cita rasanya. Itu menyegarkan dan menghilangkan aroma amis sekaligus serta aroma dari wine putih yang digunakan juga masih terasa.

Kombinasi belut dengan salad mimosa sulit dibayangkan. Telur, mayones, dan mustard, akankah cita rasanya berpadu dengan baik bersama daging belut? Jika kau tidak mengolah dengan benar, telur akan terasa amis. Tapi Kaya Lotus bisa mengolahnya dengan mudah. Dia mengubah aroma amis menjadi cita rasa yang sesuai dengan yang dia bayangkan.

Dan dia selesai dengan sempurna. Rasa telur yang lezat dan daging belut yang sedap, bercampur seolah-olah kau memadukan ikan dengan daging sehingga menciptakan cita rasa yang istimewa. Bawang bombay dan timun memberikan kesegaran di mulut, dan daun sla memberikan sensasi kerenyahan yang segar saat mengunyah. Itu adalah hidangan dengan keseimbangan yang baik. Kombinasi sempurna antara daging belut dan salad mimosa. Dan hasil analisa ini juga tampak di layar sistem.

[Salad mimosa dan belut bakar]
Kesegaran: 85%
Asal: (Terlalu banyak bahan)
Kualitas: Tinggi (Bahan rata-rata)
Poin Memasak: 8/10

Jo Minjoon tercengang melihat poin tersebut. 8 poin. Ini penipuan. Tentunya ini memang hasil Kaya sendiri, tapi 8 poin untuk hidangan itu…  Tidakkah itu berarti hidangan itu dapat di sajikan di restoran dengan bintang Michelin?

Levelnya terlalu tinggi untuk menjadi peserta Grand Chef.

Jo Minjoon tertawa garing. Dan ada satu kamera sedang merekam Jo Minjoon. Kamera itu merekam tatapan Jo Minjoon yang tidak bisa lepas dari Kaya. Dan seseorang yang memegang kamera bukanlah kameramen melainkan PD yang mengambilnya dari kameramen.

‘Kepolosan pria selalu berakhir menjadi sebuah hadiah.’

PD tersenyum dan memfokuskan kamera pada wajah Jo Minjoon. Tidak masalah apa yang dipikirkan pria itu, apa yang kamera ini sedang rekam adalah tatapan seorang pria yang sedang terkagum. Maknanya akan bervariasi bergantung dari bagaimana interpretasi penonton. Dan hanya memasukkan subtitle ke layar sudah cukup memancing pendapat para penonton dengan mudah.

Kaya meletakkan piring saji di atas kereta dan pergi menemui para juri. Para penonton menatap punggung Kaya yang menjauh dengan tatapan bingung. Namun tidak perlu menunggu lama. Beberapa saat kemudian Kaya sudah keluar dari ruangan para juri.

Tentunya dengan lencana di dadanya.

“Kau menatap Kaya dengan intens sebelumnya.”

Selama interview, kata-kata itu terdengar entah dari mana. Jo Minjoon membuka matanya lebar-lebar dan memandang PD. Nama PD itu adalah Marin Osburn. Dia berusia 31 tahun, senyumannya cukup membuat setiap orang memperhatikannya.

“Kau berusia 21 tahun, kan? Usia yang bagus. Ketika aku seusiamu aku menyukai beberapa gadis”

Secara teoritis dia memang berusia 21 tahun. Tapi dia belum berulang tahun ke-21. Jo Minjoon membalas dengan suara bergetar.

“Menurutku kau salah paham akan sesuatu.”

“Benarkah? Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas dan menafsirkannya seperti itu.”

Mungkin itu sedikit menyinggungnya tapi Jo Minjoon menghela nafas.

“Keahliannya memasak sangat luar biasa hari ini. Aku hanya mengagumi keahliannya saat itu.”

“Jika kau menyebut itu luar biasa, apakah itu berarti lebih baik darimu?”

Marin bertanya sambil bergurau. Jo Minjoon ragu sesaat. Pikirannya jernih. Dia memang kurang mampu dibanding Kaya. Dan perbedaan itu akan menipis dalam waktu singkat. Namun mengatakan itu dengan mulutnya sendiri itu memalukan. Jo Minjoon membalas dengan pasrah.

“Dia adalah peserta terbaik hari ini. Dia lebih dari siapapun yang aku perhatikan hari ini. Dan mungkin saja menjadi yang terbaik di kompetisi ini.

Ketika Jo Minjoon berpikir jawabannya sudah tepat, Marin berpikir hal yang lucu. Bagaimana jika dia memotong bagian Jo Minjoon mengatakan bahwa Kaya adalah peserta terbaik dan mengunggahnya seperti itu. Tentunya, itu agak berlebihan. Marin berkata sembari terpikir akan banyak hal,

“Dengan mengatakan dia yang terbaik di kompetisi ini, apakah itu berarti dia akan menang?”

“Jika tidak ada hal luar biasa terjadi, dia akan menang. Dan aku berharap menjadi hal yang mematahkan itu.”

Tanpa diduga, tanggapan Jo Minjoon sangat profesional. Dia tidak dibesarkan di negara berbahasa Inggris, namun kata-kata dan frasa yang dia ucapkan melebihi penutur asli bahasa Inggris. Sebenarnya, bagaimana bisa seperti itu, karena di Korea, bahasa Inggris yang diajarkan adalah yang formal dan sulit, bukan percakapan biasa. Bisa dikatakan, bagi orang Korea, wajar jika memahami denominasi bahasa Inggris yang sulit tapi tidak tahu bagaimana menjawabnya.

Tentunya, mengetahui kata yang sulit tidak membuat pidatomu lebih profesional. Alasan kata-kata Jo Minjoon terdengar bijak yatu Jo Minjoon telah memikirkan apa yang harus dikatakan sebelumnya. Terlebih karena dia bukan penutur asli bahasa Inggris, tapi juga karena dia tidak ingin berbicara sesuatu secara informal.

“Iti ambisi yang baik. Secara personal aku mau kau, Jo Minjoon, untuk memenangkan kompetisi.”

“…Aku punya firasat bahwa kau mengatakan hal itu pada tiap orang yang sudah kau wawancara.”

“Tentu tidak.”

Marin mengatakan itu dan tersenyum, lalu melanjutkan berbicara,

“Aku dengar dari perusahaan bahwa kau punya kisah yang menarik. Tampaknya begitu kau sampai di AS, kau terlibat dalam sebuah insiden besar.”

“Aku tidak ingin membahas itu.”

“Minjoon. Kisah yang bagus membuahkan hasil yang bagus. Tentu saja, acara ini lebih mengutamakan membahas tentang masakan, tapi pikirkanlah jika ada kasus dimana level cita rasa makanan sama. Berdasarkan kisahmu, para juri mungkin tidak melirikmu atau bisa jadi iya. Karena mereka juga manusia.”

“…Aku lebih memilih didiskualifikasi. Aku tidak ingin menang karena kisahku alih-alih keahlian memasakku.”

“Kau bilang ingin membuat ini menjadi ajangmu tampil. Minjoon apakah resolusimu hanya sampai di sini?”

Mendengar perkataan Marin, tatapan Jo Minjoon semakin tajam. Resolusi? Resolusi apa yang dia maksud? Resolusi membuat air mata keluarga Dean menjadi gosip murahan? Dia berkata dengan nada sedikit jengkel, seperti seolah-olah anjing pariah yang akan menggeram.

“Resolusiku adalah membuat hidangan yang lezat. Itu saja.”

Marin tidak membalas dan hanya menatap Jo Minjoon. Jo Minjoon memalingkan tatapannya seolah-olah dia tidak ingin kalah. Marin berkata dengan senyum kecut.

“Kau adalah orang yang baik. Dan chef yang bagus.”

Dia mengatakan itu dengan tulus. Sebagai PD dari Grand Chef, Marin telah bertemu berbagai macam orang dan mengobrol berbagai hal. Meski ini program tentang memasak, tapi juga  perlu menstimulasi penonton dari pada hanya menunjukkan kualitas hidangan. PD harus mencari setidaknya sedikit kisah menarik dari para peserta. Dan para peserta bahkan kadang-kadang membuat-buat kisahnya.

Alasan penyiar mengubah realitas itu sederhana. yaitu agar lebih banyak orang yang menonton. Dan juga ada alasan bagi peserta untuk melakukannya. Mereka menginginkan simpati. Mereka ingin membumbui sajian mereka dengan air mata dan emosi.

Sejujurnya, itu sedikit efektif. Jika hidangan itu terlalu standard, PD akan membuat para juri memilih peserta yang memiliki kisah yang menarik untuk menjadi bintang. Tentunya, para juri tidak suka, tapi ketika dua peserta mempresentasikan hidangan dengan kualitas yang sama, para juri mengalami kesulitan untuk memilih. Pada saat itu, meski para juri tidak punya kesempatan lain, tapi demi mendukung peserta itu menjadi bintang, mereka dengan sukarela memilihnya. Hal ini jelas efektif.

Dan peserta yang di depannya ini mencoba menutupi kisahnya. Tentu saja kisah Jo Minjoon bukan kisah yag buruk. Seorang mahasiswa yang memiliki hasrat menjadi chef, hingga pergi ke belahan bumi yang lain demi mewujudkan impiannya. Namun emosi dari kisah itu sedikit kurang.

“…Kau mungkin akan menyesal. Minjoon, kisahmu di New York dengan keluarga Dean mungkin menjadi senjata yang benar-benar ampuh. Seorang PD seperti aku yakin akan hal itu. Tapi, kau tidak mau menceritakan kisahmu?”

“Iya. Aku tidak akan menceritakannya.”

Marin terdiam beberapa saat. seketika dia akan bersuara, dia tersenyum seperti saat pertama bertemu.

“Bagus. Minjoon, Aku yakin dengan keputusanmu. Acara ini akan membuatmu menang dengan keahlian memasakmu. Hanya dengan begitu kau berada di kompetisi ini.”

“Terima kasih atas pengertiannya.”

Jo Minjoon menjawab dengan melunakkan ekspresinya. Melihat Jo Minjoon, Marin berkata dengan serius,

“Aku berharap kau menjadi pemenang.”

Itu adalah kedua kalinya dia mendengar ucapan itu. Namun, makna di baliknya sangat berbeda dengan yang pertama. Jo Min Joon tersenyum.

“Sepertinya aku punya fan yang memahamiku.”

< Persiapan Grand Chef, dan… (5) > Selesai

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded