Dragoon Chapter 4 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Chapter 4

Sesudah ribut-ribut di pintu gerbang akademi tadi, Rudel turun dari keretanya, dan membawa barang-barang bawaannya menuju asrama laki-laki yang akan ia gunakan. Barang bawaannya yang sedikit hanya perlu diangkut bolak-balik beberapa kali, dan setelah para pelayan mengatakan kata-kata perpisahan, mereka pun segera pergi.

“Kamarnya nggak buruk-buruk amat… meskipun rasa-rasanya kamar ini terlalu besar buat asrama sekolah.”

Setelah melepas pakaian kebangsawanan yang penuh dengan pernak-perniknya, ia berganti baju dengan baju yang lebih nyaman digunakan lalu melihat jadwal kegiatannya. Setelah upacara pembukaan besok, sebuah pertemuan penjelasan singkat dan sebuah pesta kedatangan menanti. Di usia 15 tahun, para murid akan memilih antara 2, 3, atauh 5 tahun kurikulum… tentunya ada banyak yang lebih berbakat daripada dirinya, dan ia akan bersaing dengan mereka untuk menjadi seorang ksatria.

Sesudah memikirkan hal-hal demikian, Rudel mulai  menggerak-gerakkan badannya di kamar yang sudah ia rapikan. Dengan segala ketegangan dan kekhawatiran ini, jika aku tidak jalan-jalan sedikit… rasanya…

Dan meski demikian, ia masih belum bisa tenang. Sejak ia tiba di akademi, ia merasakan kekhawatiran dan kegugupan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasakan suatu dorongan yang sangat kuat yang memaksa dirinya untuk meninggalkan kamarnya.

“Apa ini? Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya… “

Ia berbicara sendiri sambil memakai pakaian yang cukup agar ia tidak malu jika orang melihatnya jalan-jalan. Bahkan jika ia berjalan-jalan di sekitaran akademi- area sekitar asrama laki-laki ini lebih tepatnya- ‘ini bukan tempatnya,’ ada sebuah perasaan aneh mengiang-ngiang di dalam benaknya… ah apalah! Sambil menggerak-gerakkan kakinya.

Dan kemana kakinya tadi membawanya adalah… asrama perempuan!

“Apakah aku sampai segitunya? Nggak, itu, emmm… aku laki-laki, dan bukan berarti aku tidak punya ketertarikan atau… “

Rudel sungguh kebingungan mengapa ia secara tanpa sadar bisa sampai berjalan ke sini. Sekelompok tentara wanita mendekatinya dengan berhati-hati.

“Apa yang kamu lakukan di sini? Ini asrama perempuan, dan semua laki-laki dilarang masuk ke sini.”

Itu tadi adalah penjelasan yang sopan, namun asrama perempuan memiliki beberapa siswa dengan kelas sosial yang tinggi. Karena tentara-tentara inilah yang akan pertama kali bertindak jika terjadi apa-apa, laki-laki yang berusaha masuk hanya akan menjadi sebuah gangguan kecil.

Karena itulah, meski sopan, ada kekuatan yang nampak dari tangan mereka yang bersiap memegang pedang di pinggang mereka.

“Mo-mohon maaf. Saya tadi tersesat… Bisa minta tolong antarkan saya ke asrama laki-laki?”

“… Kami akan membawamu ke sana. Tapi jangan pernah berpikir kamu akan dimaafkan untuk kedua kalinya.”

Mereka menjaga ketat Rudel dan mengantarnya menuju kamarnya.

“Syukurlah, akan sangat mengganggu jika kalian para bangsawan tidak bisa menjaga kelakuan kalian! Dengar nak, satu kesalahan, dan akan ada masalah besar yang akan meletus di antara keluarga bangsawan… “

Para tentara menegurnya dan memberi penjelasan dengan nada lelah. Sering muncul masalah-masalah di akademi yang menjadi sumber pekerjaan melelahkan tanpa henti bagi para tentara.

Kerja kalian kelihatannya keras… itulah yang dapat Rudel rasakan. Dia memang tidak pernah memiliki niat jorok, dan ia juga tidak berpikir akan pernah mendatangi tempat itu lagi. Sesekali Rudel meminta maaf kepada para tentara tersebut di sepanjang perjalanan menuju asrama laki-laki.

“Ah! Bisa kamu tunjukkan kartu pelajarmu? Itu aturannya, demi kejelasan aturan, jadi aku harus memastikan identitasmu… “

Dari para bangsawan sampai siswa umum, akademi menampung para pelajar yang tak terbilang banyaknya, dan selalu membawa kartu pelajar adalah sebuah keharusan. Itu adalah sebuah cara untuk memastika tidak ada orang asing yang menyusup masuk, namun tujuan utamanya adalah mengontrol para murid. Kartu pelajar mencatat setiap pelanggaran rumah, dan setiap permasalahan yang telah diperbuat.

“Silahkan.”

Mematuhi aturan, Rudel selalu membawa kartu pelajarnya seperti yang dijelaskan di dalam tata tertib sekolah yang telah ia terima sebelumnya. Ketika ia menyerahkannya…

“… Rudel Arses? Tuan Bangsawan Agung Arses!!! Mo-mohon maaf sebesar-besarnya!!! Saya sudah berbuat kelewat batas! Kamu pasti punya urusan kan di asrama perempuan, ya kan? Kami akan segera mengantarmu kembali… “

“Ti-tidak, saya tadi cuma tersesat!”

“Tentu! K-kalau begitu, aku akan memanggil, ‘seseorang yang akan memperkenalkanmu dengan perempuan semacam itu’… Jadi aku mohon, jika mungkin… tolong, jangan para murid… Aku mohon maaf, aku tadi sudah terlalu kasar, ya kan.”

Rudel memandang tentara yang tersipu itu dengan kasihan. Dan pada waktu bersamaan, ia paham bagaimana ia dipandang… Apakah aku memang terlihat senafsu itu? Itulah yang ada di pikirannya, ia jadi benar-benar merasa sedih.

~~~***~~~

Setelah mampu mengatasi kesalah pahaman tersebut, entah bagaimana caranya, Rudel kembali ke kamarnya dan beristirahat. Mungkin berinteraksi dengan lebih banyak orang daripada yang pernah ia alami selama ini membuatny lelah, dan meski masih sangat awal, ia memutuskan untuk tidur.

Ketika pagi tiba, ia membuka mata ketika masih subuh seperti yang sudah menjadi kebiasaannya. Setelah mendapatkan seragam yang lupa belum ia terima kemarin, ia sadar ia masih punya banyak waktu, jadi ia memutuskan untuk jalan-jalan di halaman asrama laki-laki.

Namun yang terlihat bukanlah pemandangan yang menenangkan. Sekerumunan pria berlatih pedang dan menyelenggarakan pertandingan, suara kayu dan besi yang saling berdentingan bergaung ke mana-mana. Pemandangan yang menghibur bagi Rudel.

(Semuanya bekerja dengan keras. Jika aku tidak berusaha sebaik mungkin, mereka akan mengalahkanku tanpa perlu waktu lama.)

Jadi Rudel mencari tempat kosong dan mulai mengayunkan pedangnya. Sekelompok kakak kelas melihatnya dan ingin berbicara sesuatu, tapi tidak jadi dan meninggalkannya seorang diri sambil mengasah pedang mereka.

Setelah beberapa saat, bel berbunyi 6 kali… mendengarnya, para murid mulai beres-beres dan berjalan menuju kantin. Rudel ragu apakah ingin mengikuti mereka atau tidak.

“Kamu murid baru, iya kan? Bahkan kalau kamu ingin lanjut, kamu bisa nyantai sekarang… Tempat ini kosong jam-jam segini.”

“Katanya kantinnya terkenal, jadi kita harus buru-buru.”

Rudel mengingat-ingat petunjuk-petunjuk penting yang telah ia baca sebelumnya. Menanggapinya, si kakak kelas berkata,

“kantin baru ramai kalau bel sudah berbunyi 7 kali. Tapi anak-anak yang suka nongkrong di sini memang suka datang lebih dulu jam-jam segini.”

Demikianlah ia mengikuti kakak kelasnya, dan masuk ke kantin sekolah. Di sana, para murid laki-laki dengan piringnya yang penuh dengan makanan sampai menggunung… membuat perutnya sakit.

“Lihat, masih kosong kan? Aku Vargas, tahun ketiga.”

“Aku Rudel. Rudel Arses.”

“Kamu bangsawan? Aku dari desa, jadi aku agak kurang tahu kalau soal bangsawan… ya gak apalah, mari berteman.”

Vargas, si kakak kelas, dengan rambut merahnya yang panjang terkuncir di belakang. Kulinya yang sawo matang dan badannya yang kekar terasa sedikit menakutkan, namun setelah mengobrol bersama dia, dia adalah pemuda yang mudah bergaul.

“Ya!”

Bagi Rudel, ini adalah saat di mana ia mendapat teman yang dapat ia ajak bicara di luar keluarganya.

~~~***~~~

Kembali ke kamarnya sesudah dari kantin, Rudel berganti baju dan mengenakan seragamnya, lalu memasuki bangunan yang besar di dalam lingkungan akademi. Daripada sebuah auditorium, meskipun secara praktis… benar, namun tempat tersebut lebih mirip sebuah arena. Karena pertarungan memang sungguh-sungguh terjadi di tempat tersebut, deskripsinya tidak salah, tapi. . .

“Saya berbahagia atas banyaknya anak muda yang kami sambut melalui pintu kami ini…”

Setelah mendengarkan sambutan yang panjang dari kepala sekolah, para murid dibagi ke dalam kelas-kelas dan diantara menuju kelas mereka masing-masing. Secara umum, sekolah tersebut hanya mengajarkan hal-hal mendasar di 2 tahun pertama, dan pembagian kelas hanyalah untuk memisahkan para bangsawan yang sedang bermusuhan, atapun mengumpulkan siswa dari rakyat jelata di dalam satu tempat… itu adalah hal yang sewenang-wenang

Namun Rudel adalah anak sulung dari Keluarga Arses, satu dari Tiga Penguasa. Untuk menghindari  adanya kelancangan, ia dimasukkan ke dalam kelas yang berisi anak-anak para bangsawan. Dan tahun ini, selain Rudel, para anak sulung dari keluarga Tiga Penguasa yang juga akan masuk, sehingga akademi dipenuhi suasana yang tegang.

“Aku berharap kita bekerja sama untuk 2 tahun ke depan.”

Wali kelas memberikan sambutan singkat, dan berikutnya pengenalan diri… yang seharusnya berakhir dengan baik.

Namun nyatanya tidak juga. Sesuatu akan terjadi, tidak, ia harus membuat sesuatu! Sensasi yang aneh menguasai Rudel. Khawatir akan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelum masuk ke akademi ini, Rudel mengakhiri pengenalan dirinya tanpa adanya insiden.

Meski demikian!

“Izumi Shirasagi.”

Dengan pengenalan diri seorang gadis oriental, suasana di dalam kelas berubah. Rambut dan mata hitam adalah pemandangan yang langka di Courtois; Karakteristik oriental menjadi sasaran emput bagi anak-anak. Ejekan berterbangan, dan perkataan-perkataan untuk menyakiti gadis tersebut mulai bersebaran.

Sebuah kelas yang berpusat pada para bangsawan. Bagi seorang gadis oriental di dalam kelas, rasanya seolah-olah sedang terjadi pertukaran pelajar. Namun sebenarnya, itu semua agar semua pandangan berpusat pada dirinya agar para bangsawan tidak saling beradu tatap.

Anak laki-laki yang berada di belakangnya menarik rambut poninya yang panjang… Melihat seorang gadis sedang diganggu, Rudel melihat adiknya sendiri, Lena. Tapi tidak seperti rambut Lena yang nampak begitu halus bagai sutra.

“Kalian bisa berhenti tidak? Sadarkah kalian betapa memalukannya apa yang kalian perbuat?”

Hanya perlu satu perkataan tersebut dari Rudel untuk membuat kelas kembali tenang. Sang guru mengambil alih situasi dan memperingatkan mereka yang telah mengganggu gadis tersebut. Bagi mereka yang bertumbuh di lingkungan para bangsawan, mereka dibiasakan untuk mematuhi perintah. Dari status keluarga, tidak ada seorang pun yang berani melawan Rudel dari keluarga Tiga Penguasa.

Di akhir pelajaran, sang guru memuji apa yang dilakukan Rudel, dan murid yang lain juga mendukung… Bagi Rudel, pemandangan tersebut terlihat sungguh membingungkan.

~~~***~~~

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded