Dragoon Chapter 28 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Terus konsisten memenangi pertandingan, kini saatnya kelas Rudel melawan kelas Eunius di semifinal. Di dalam blok pertandingan yang berisi lawan-lawan kuat, ketika mereka mencapai semifinal, keduanya sudah dalam keadaan babak belur. Eunius cidera di sana-sini. Akan tetapi Rudel…

“R-Rudel, kamu nggak apa-apa?”

Izumi menanyai Rudel dengan penuh rasa khawatir. Dalam pertandingan Rudel melawan Luecke, ia telah terkena serangan dari sihir tingkat tinggi. Dan sebelumnya, ia telah terkena serangan bertubi-tubi. Dan kemudian, ia dengan mudah memenangkan pertandingan, namun. . . di sana-sini, badannya penuh dengan perban, membuat dirinya nampak kesakitan.

“Nggak apa-apa kok. Lihat, aku masih bisa gerak.”

Katanya sambil menggerak-gerakkan pundaknya. Badannya bisa bergerak. . . maksudmu bergerak sambil menahan sakit? Begitu pikir Izumi, namun turnamen ini harus mereka menangkan apapun yang terjadi. Bahkan jika mereka harus memaksakan diri, itulah yang selalu Izumi pikirkan dan fokuskan dalam setiap pertandingan.

Dan pertandingan pun di mulai… hingga pertandingan terakhir, mereka telah menang 4 kali berturut-turut! Kelas Rudel sudah pasti lanjut ke final. Meskipun kedua kubu dalam kondisi babak belur, kalau soal perasaan, kelas Rudel sudah senang karena sudah pasti menang.

~~~***~~~

Pertandingan terakhir memiliki aura yang rasanya tertahan-tahan. Dengan skor di semifinal 4 banding 1. . . dari sudut pandang Rudel yang babak belur, sudah tidak perlu lagi memaksakan diri. Benar, normalnya, ia hanya perlu menyimpan tenaganya untuk final tanpa perlu menambah cidera.

Rudel dan Eunius berdiri berhadap-hadapan, menunggu aba-aba dari wasit. Sementara itu, Eunius angkat bicara.

“Ayolah. . . kenapa sih kelasku ini mengganggu aja? Hey, Rudel. . . aku tahu permintaanku ini egois banget, tapi bisakah kamu menghadapiku dengan serius? Bahkan kalau kamu tidak mau, aku akan menghadapimu dengan tujuan untuk membunuhmu.”

Tidak dengan senyum biasanya yang mirip monster, kali ini senyum Eunius mencerminkan tekadnya yang besar.

“Kamu ngomong apa sih? Sudah pastilah aku akan menghadapimu dengan serius! Aku akan menepati janji yang sudah kita buat waktu kita di lapangan dulu!”

Eunius terbelalak dan tertawa terbahak-bahak. Pedang kayu yang ia pilih berupa pedang besar yang biasa digenggam dengan dua tangan. Ketika ia mulai menggenggamnya dan mengambil kuda-kuda, Rudel juga mempersiapkan dirinya. Sang wasit – yang ragu apakah ia perlu menyela pembicaraan atau tidak – memutuskan selama mereka tidak memberikan pertarungan yang mengecewakan di hadapan keluarga kerajaan, maka pertandingan bisa dimulai dan ia memberi aba-aba.

“Aku menyukai kebodohanmu itu! Sekarang ayo hadapi aku, Rudel!!!”

Mereka berdua saling serang. Eunius berfokus hanya pada pedangnya, sementara Rudel menggunakan gaya bebas dengan berganti-ganti antara pedangnya dan sihirnya. Membandingkan mereka berdua, Eunius menunjukkan rangkaian skill elegan yang mengejutkan, sementara gaya bertarung Rudel cenderang keras dan kasar.

Gaya bertarung Rudel yang hanya berfokus untuk menang lebih mirip gaya bertarung tentara bayaran daripada seorang bangsawan. Apalagi ditambah dengan sihirnya, inilah pertandingan yang tidak sesuai bagi Eunius. . . begitulah yang dipikirkan orang-orang.

Namun kenyataannya, Rudel lah yang dipukul mundur. Dengan serangan pedang Eunius yang ringan mengalir, dan perbedaan kekuatan karena ukuran tubuh. . . itu semua sungguh menyiksa Rudel, dan Eunius sudah terbiasa menghindar dari serangan sihir. Dengan sihir sebagai kelemahannya, gaya bertarung Eunius sungguh sederhana.

Jangan beri kesempatan kepada mereka untuk menggunakan sihir. Kalau sampai mereka menggunakan sihir, cepat menghindar.

Sederhana dalam konsep, sulit dalam prakteknya, Eunius mampu mempraktekkan filosofinya secara sempurna melawan Rudel. Ditambah lagi, serangannya selalu kena sasaran. Rudel lah yang kesulitan menangani serangan-serangan Eunius.

“Kamu senang, Rudel!?! Sekarang ini, aku benar-benar menikmatinya!!! Lihat, kamu mampu menyusul kemampuanku sampai sejauh ini – artinya kamu memang serius – kamu benar-benar tahu bagaimana membuat seorang pria senang!”

Rudel menangkis serangan Eunius yang bertubi-tubi. Sadar bahwa keadaan akan semakin memburuk, ia menyalurkan sihir ke dalam pedangnya untuk mematahkan pedang Eunius. Namun merasakan adanya perbedaan, Eunius mengambil jarak. Melihat pedang Rudel menyala, Eunius menyadarinya.

Ketika ia mengambil jarak, Rudel beralih kepada pertarungan sihir jarak menengah. Dan sambil menghindari serangannya, Eunius berkata.

“Pakai sihir buat pedangmu ya? Bagus. . . Cuma ada satu cara untuk melawannya!”

Berhenti menghindar dan membuat kuda-kuda, Eunius memotong sihir yang mengarah kepadanya. Menyalurkan sihir ke pedangnya, ia telah menguasai teknik sihir yang sama dalam waktu yang singkat. Namun yang satu ini berbeda. Karena Eunius tidak pernah menggunakan sihir, ia punya banyak sisa mana untuk digunakan.

Berbeda dengan pedang Rudel yang hanya memberikan sinar yang redup, pedang Eunius sampai bergetar menerima mana yang selama ini ia simpan menuju mata pedangnya. Menggunakan aliran energi yang begitu besar ini, Eunius menerjang Rudel. Rudel secara spontan menahan serangannya itu dengan pedangnya, namun sihir pada pedang Eunius bergerak seperti cambuk, dan mengenai wajah Rudel.

Kali ini, Rudel dipaksa mengambil jarak, namun Eunius takkan membiarkannya. Rudel sedang dalam posisi yang tidak menguntungkan.

~~~***~~~

[Terima kasih sudah membaca meionovel.com \ ( ^ _ ^ ) / ]

~~~***~~~

Orang yang bernama Eunius yang menunjukkan perkembangan luar biasa cepat di dalam pertarungan, di dalam gamenya ia muncul sebagai ‘ahli pedang berbakat’. Meskipun seorang bangsawan, ia lebih menyukai kebebasan, dan ia adalah sosok yang bisa dipercaya oleh siapapun. Ia memiliki kepekaan akan tanggung jawab, dan kalau ia ditempatkan sebagai pemimpin, tidak diragukan lagi ia akan membawa kemajuan besar. . . ia adalah karakter semacam itu.

Namun hal seperti itu menyiksa Eunius. Sebagai seorang bangsawan agung, bakat berpedang yang mumpuni itu lebih dari cukup. Karena jika ia ditempatkan sebagai pemegang komando dalam pertempuran, Eunius tidak akan pernah ditempatkan di garda depan.

Eunius sangat mencintai pedangnya, dan ia berlatih dengan sungguh-sungguh. Namun ia tidak punya kesempatan untuk menguji batas-batas kemampuannya. Semua orang enggan melihat posisinya sebagai seorang bangsawan agung. Bahkan di dalam pertandingan di sekolah, mereka akan bertarung dan kalah demi dirinya.

Lewat bakatnya itulah, Eunius dapat menyadarinya dengan mudah. Semuanya terasa hampa. Ia bahkan pernah berpikir untuk membuang statusnya. Namun rasa tanggung jawabnya selalu mencegahnya. Meninggalkan keluarganya, rakyatnya, dan hidup dengan pedang? Eunius tidak mampu melakukan hal itu. Jadi ia meninggalkan pikirannya untuk selalu melekat dan hanya bergantung pada pedangnya.

Sebenarnya semua hal menguntungkan baginya. Ia memiliki banyak teman baik di sekolah, bahkan seorang pacar. Ia dapat kabur dari akademi dan jalan-jalan ke kota, dan kalau soal menikmati kehidupan di sekolah, ia pun tidak memiliki masalah.

Lalu muncullah seorang Rudel. Seorang laki-laki yang hanya memikirkan keinginannya untuk menjadi seorang dragoon, bahkan jika ia harus meninggalkan keluarganya dan rakyatnya. Eunius memiliki sebuah harapan. Kalau ia melawan Rudel, mungkin ia akan mendapatkan sebuah pertandingan yang serius. . . tidak ada masalah juga soal kemampuan dan niatnya.

Ketika ia mulai memikirkannya, tibalah turnamen ini. Bagi seorang Eunius yang bahkan tak mampu mengetahui apakah perasaan Rudel akan berubah atau tidak, jika ia melepaskan kesempatan ini, ia mungkin tidak akan pernah lagi mendapatkan sebuah pertarungan yang ia telah idam-idamkan seumur hidupnya. . . begitulah pikirnya.

Jika Rudel tidak melihat suatu nilai yang cukup berharga untuk bertanding secara serius dengannya, maka sirnalah harapannya. . . apakah ia memiliki kemauan yang cukup untuk membunuh? Ia penasaran.

~~~***~~~

Rudel berlari, dan Eunius mengejarnya… Untuk beberapa saat ia mengira bahwa polanya akan terus berulang. Tiba-tiba Rudel berubah ke posisi menyerang. Berhenti menggunakan sihir, ia menyerang Eunius dengan pedangnya dengan seluruh kekuatannya. Pedang yang dialiri sihir, kalau sampai meleset, itu justru akan sangat merugikan.

“Itu dia! Serang aku seolah-olah kau ingin membunuhku!!!”

Eunius mengalirkan seluruh sihirnya ke dalam pedangnya. Dan menjawab serangan Rudel, ia langsung membalas. Rudel nyaris menghindar. Namun pedang Rudel hancur berkeping-keping. Waktu ia tahu ia tidak dapat langsung menyerang Rudel, ia mengubah fokusnya untuk menyerang pedang Rudel.

“Aku menang. . .!!!”

Eunius meyakinkan dirinya atas kemenangannya. Namun sambil membuang pedangnya, Rudel melangkah maju ke bawah dada Eunius dengan tangan kosong. Tanpa rasa takut akan reflek Eunius untuk balik menyerang, ia memukulkan kedua tangannya ke dada Eunius. . . menembakkan sihir angin yang terkompresi dengan seluruh kekuatannya.

Dengan sekejap, sebuah serangan dengan konsentrasi yang sangat singkat. . . namun meski demikian, itu tadi adalah serangan dari jarak mati. Tidak mungkin kalau serangan tadi tidak efektif!

Eunius terlempar ke luar arena. Ia berusaha bangkit berdiri, namun sesuai aturan, peserta yang meninggalkan arena didiskualifikasi. Meski demikian, ia berusaha untuk berdiri. . . sambil merasakan rasa sakit yang luar biasa di dadanya, ia tak mampu bangkit meski ia sudah berjuang dengan sepenuh niatnya.

“Pemenganya adalah, Rudel Arses!”

Dan Eunius pun kalah. Ia kalah dalam sebuah pertandingan yang serius. Ketika ia mendengar sorakan para penonton, Eunius rebah dan memandang ke langit. Saat itu sudah sore, dan langit mulai berwarna jingga.

“Kenapa aku nggak bisa bergerak. . . izinkan aku untuk bersenang-senang sedikit lagi! Kumohon, sebentar saja. . .”

Air mata Eunius menetes. Semakin ia merasa pertandingan tadi menyenangkan, semakin ia tak mampu memaafkan kekalahannya. Lalu, dengan menyeretkan langkahnya, Rudel turun dari arena dan menghampirinya.

“Itu tadi menyenangkan, Eunius. Kapan-kapan mari kita bertanding lagi. . .Nanti, aku yakin aku akan jadi lebih baik lagi.”

Kata Rudel sambil tersenyum. Dengan badan babak belur, keduanya dalam kondisi yang menyedihkan. Eunius sang ahli pedang berbakat kalah melawan orang dengan bakat yang biasa-biasa saja. Namun melihat kemauannya untuk terus berlatih menjadi orang yang lebih baik, Eunius melihat suatu hal yang luar biasa di dalam diri Rudel.

“Kau luar biasa. . . ya, ayo kita bertanding lagi. Makanya kamu harus tetap tinggal di akademi.”

Teman-teman mereka berlari menghampiri mereka. Dan mereka bedua cepat-cepat dibawa ke klinik. . . Pertandingan hari ini memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan sehingga pertandingan final ditunda keesokan harinya.

Pertandingan final melawan kelasnya Aleist menjadi satu-satunya pertandingan yang tersisa.

~~~***~~~

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded